Diluar itu dingin,lalu… kemudian dan sepi
Yang kau dengar hanya rintihan suara hujan
Jangan kau hayati !!!
Karena kau akan terbawa sunyi
Jangan biarkan mutiara bening
Jatuh dari bola matamu yang indah
Karena akan membawa bumi, langit dan semua insan-insan pencinta
Berguguran seperti bunga kembang tak jadi.
Lalu waktu memintaku berfikir seiringan dengan putarannya
Untuk apa berduka sebaiknya bersuka citalah
Tebarkan pesonamu !!!
Seperti wangi bunga di taman insan-insan pencinta
Seperti mekar bunga secantik insan-insan pencinta
Lalu siapakah insan pencinta?
Seseorangkah yang mengabdikan hidupnya untuk cinta?
Lalu… kemudian… dan cinta…
Tetapi ketika sadar kembali
Bahwa hujan masih merintih
Kau teringat akan perih yang engkau rasakan
Carilah cahaya wahai peri cantik yang berduka
Bahkan sampai tanganmu menggapai angkasa
Di saat kau memetik bintang, membelai bulan dan berkejaran dengan sang komet
Aku yakin ada persembahan yang akan kau temui
Hidup dengan kebahagian baru
Namun kau berteriak……….
Berhentilah wahai Hujan !!!
Engkau selalu merintih di telingaku
Seolah-olah mengejekku
Menyayat lebih dalam lagi hatiku, perih !!!
Andai kan sang pencipta memintaku untuk jujurkan hatiku
Aku telah bosan mendengar rintihan yang engkau anggap nyanyian itu
Apakah kau tidak tau wahai hujan tanpa mata, hati dan telinga
Sebuah teriakan setan dari mulut bejat seorang peri cantiknya yang sombong
Meludahiku dengan petir dan halilintar
Menyambar langsung ke mataku
Membawa bening-bening berkilauan pecah menjadi airmata
Lalu bolehkah aku berteriak?
Mengalahkan suara hujan?
Aku ingin berteriak
Tapi aku tak mampu untuk berteriak
Seolah-olah aku tercekik oleh kesedihan
Aku lumpuh, hatiku terbakar, telingaku tuli
Bantu aku berteriak… karena akupun bisu
Aku butuh cintamu… untuk tenangkan jiwaku yang membiru
Alam telah bernyanyi
Bahwa sang rembulan menyesal
Tidak akan pernah lagi mendapat cahaya dari sang surya
Tapi bolehkah meminta?
Agar putih tetap menjadi putih
Bukan kelabu apalagi hitam
Namun sang waktu terus berlalu
Dengan detiknya yang berisik
Bulan sabit sudah menjadi purnama
Namun sang peri kesepian masih dalam suasana duka gerhana
Senyumnya yang memudar mulai hilang dari angkasa
Rintihan hatinya telah menjadi suara alam
NB : jangan pernah belajar mengasihani dirimu sendiri. Jangan berfikir kamulah orang paling menderita di jaga raya ini. berfikirlah kamu adalah wanita paling berbahagia di dunia. Lalu bangga dengan apa yang kau miliki di hari ini dan nanti^^ jagalah harta mu itu karena itulah harta paling berharga di hidupmu. Bagi semua yang pernah merasakan pahit dan manisnya cinta. Berbahagialah dirimu karena telah mengenal senyuman dan airmata karena tanpa keduanya kamu tidak akan bisa seberjaya seperti saat ini. mempunyai senyuman setulus senyuman fajar^^ Love for U aLL from Misa_Misa^^